
Sleepwalking atau yang dikenal juga dengan istilah somnambulism merupakan gangguan tidur yang membuat seseorang berjalan atau melakukan aktivitas lain saat masih dalam kondisi tidur. Meskipun umumnya terjadi pada anak-anak, sleepwalking juga bisa dialami oleh orang dewasa dan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai penyebab, gejala, serta cara efektif untuk menghadapinya.
Sleepwalking adalah salah satu jenis parasomnia yang terjadi pada fase tidur non-rapid eye movement (NREM). Pada fase ini, otak berada dalam tidur dalam yang seharusnya membuat tubuh benar-benar istirahat. Namun, pada penderita sleepwalking, sebagian otak justru aktif dan mendorong tubuh melakukan aktivitas tanpa kesadaran penuh.
Episode sleepwalking biasanya muncul pada awal malam, sekitar 1–2 jam setelah seseorang tertidur. Durasi episode ini bisa berlangsung beberapa detik hingga lebih dari 30 menit, dan yang bersangkutan biasanya tidak mengingat apa yang terjadi setelah bangun.
Berbagai faktor dapat memicu terjadinya sleepwalking, baik dari aspek genetik, gaya hidup, maupun kondisi medis tertentu. Pemahaman terhadap penyebab ini sangat penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Sleepwalking sering kali diturunkan secara genetik. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat tidur berjalan, kemungkinan besar anak juga akan mengalaminya.
Kurang tidur atau kelelahan ekstrem dapat mengganggu pola tidur normal dan meningkatkan risiko terjadinya parasomnia seperti sleepwalking.
Tingkat stres yang tinggi, kecemasan, atau tekanan emosional dapat menyebabkan gangguan tidur dan memicu episode sleepwalking pada malam hari.
Beberapa jenis obat seperti penenang atau antidepresan serta konsumsi alkohol dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan mengganggu pola tidur, sehingga memicu tidur berjalan.
Sleep apnea, night terror, atau restless leg syndrome juga dapat berkaitan dengan terjadinya sleepwalking, karena mengganggu fase tidur nyenyak.
Orang yang mengalami sleepwalking biasanya tidak menyadari tindakannya. Beberapa gejala umum yang muncul selama episode sleepwalking antara lain:
Penanganan sleepwalking bertujuan untuk mengurangi frekuensi kejadian, meningkatkan kualitas tidur, dan memastikan keamanan penderita saat tidur.
Usahakan tidur selama 7–9 jam per malam dan buat jadwal tidur yang konsisten setiap hari, termasuk akhir pekan.
Kunci pintu dan jendela, pasang pagar pengaman di tangga, serta singkirkan benda tajam atau pecah belah di sekitar tempat tidur.
Lakukan aktivitas yang menenangkan seperti membaca buku, mendengarkan musik lembut, atau mandi air hangat agar tidur lebih rileks.
Latih teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau journaling untuk mengurangi stres dan kecemasan yang menjadi pemicu utama sleepwalking.
Konsumsi alkohol atau minuman berkafein bisa mengganggu siklus tidur dan memperbesar kemungkinan terjadinya episode tidur berjalan.
Jika sleepwalking terjadi lebih dari dua kali seminggu atau menimbulkan risiko berbahaya, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut dan terapi yang tepat.
Sleepwalking pada dasarnya tidak membahayakan jika terjadi sesekali. Namun, dalam kasus tertentu, penderita bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain karena tidak sadar akan tindakannya. Misalnya, ia bisa keluar rumah, jatuh dari tangga, atau tanpa sengaja menyalakan alat berbahaya. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang sesuai.
Sleepwalking adalah gangguan tidur yang bisa dipicu oleh banyak faktor, dari genetika hingga gaya hidup. Meskipun bukan kondisi yang mengancam jiwa, sleepwalking tetap perlu ditangani secara serius untuk mencegah risiko bahaya. Menjaga kualitas tidur, menciptakan lingkungan yang aman, serta melakukan manajemen stres yang baik dapat membantu mengurangi frekuensinya. Jika perlu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional guna mendapatkan penanganan yang optimal.
Baca Juga: Apa Itu Propylene Glycol? Fungsi, Kegunaan, dan Efek Sampingnya