Apa Itu Sleepwalking? Penyebab, Ciri, dan Cara Menanganinya

Sabtu, 14 Juni 2025 16:37

Sleepwalking atau yang dikenal juga dengan istilah somnambulism merupakan gangguan tidur yang membuat seseorang berjalan atau melakukan aktivitas lain saat masih dalam kondisi tidur. Meskipun umumnya terjadi pada anak-anak, sleepwalking juga bisa dialami oleh orang dewasa dan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai penyebab, gejala, serta cara efektif untuk menghadapinya.

Apa Itu Sleepwalking?

Sleepwalking adalah salah satu jenis parasomnia yang terjadi pada fase tidur non-rapid eye movement (NREM). Pada fase ini, otak berada dalam tidur dalam yang seharusnya membuat tubuh benar-benar istirahat. Namun, pada penderita sleepwalking, sebagian otak justru aktif dan mendorong tubuh melakukan aktivitas tanpa kesadaran penuh.

Kapan Sleepwalking Terjadi?

Episode sleepwalking biasanya muncul pada awal malam, sekitar 1–2 jam setelah seseorang tertidur. Durasi episode ini bisa berlangsung beberapa detik hingga lebih dari 30 menit, dan yang bersangkutan biasanya tidak mengingat apa yang terjadi setelah bangun.

Penyebab Sleepwalking

Berbagai faktor dapat memicu terjadinya sleepwalking, baik dari aspek genetik, gaya hidup, maupun kondisi medis tertentu. Pemahaman terhadap penyebab ini sangat penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.

Faktor Genetik dan Keturunan

Sleepwalking sering kali diturunkan secara genetik. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat tidur berjalan, kemungkinan besar anak juga akan mengalaminya.

Kelelahan dan Kurang Tidur

Kurang tidur atau kelelahan ekstrem dapat mengganggu pola tidur normal dan meningkatkan risiko terjadinya parasomnia seperti sleepwalking.

Stres dan Gangguan Emosi

Tingkat stres yang tinggi, kecemasan, atau tekanan emosional dapat menyebabkan gangguan tidur dan memicu episode sleepwalking pada malam hari.

Konsumsi Obat dan Alkohol

Beberapa jenis obat seperti penenang atau antidepresan serta konsumsi alkohol dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan mengganggu pola tidur, sehingga memicu tidur berjalan.

Gangguan Tidur Lainnya

Sleep apnea, night terror, atau restless leg syndrome juga dapat berkaitan dengan terjadinya sleepwalking, karena mengganggu fase tidur nyenyak.

Ciri-ciri Orang yang Mengalami Sleepwalking

Orang yang mengalami sleepwalking biasanya tidak menyadari tindakannya. Beberapa gejala umum yang muncul selama episode sleepwalking antara lain:

  • Berjalan dengan mata terbuka tapi tatapan kosong
  • Berbicara atau menggumam tanpa arah saat tidur
  • Tidak merespons saat diajak bicara
  • Melakukan gerakan berulang seperti menggosok mata atau membetulkan baju tidur
  • Bisa melakukan aktivitas kompleks, seperti membuka pintu atau turun tangga
  • Tidak mengingat kejadian tersebut saat bangun

Cara Mengatasi Sleepwalking

Penanganan sleepwalking bertujuan untuk mengurangi frekuensi kejadian, meningkatkan kualitas tidur, dan memastikan keamanan penderita saat tidur.

Menjaga Pola Tidur yang Teratur

Usahakan tidur selama 7–9 jam per malam dan buat jadwal tidur yang konsisten setiap hari, termasuk akhir pekan.

Menciptakan Lingkungan Tidur yang Aman

Kunci pintu dan jendela, pasang pagar pengaman di tangga, serta singkirkan benda tajam atau pecah belah di sekitar tempat tidur.

Melakukan Rutinitas Sebelum Tidur

Lakukan aktivitas yang menenangkan seperti membaca buku, mendengarkan musik lembut, atau mandi air hangat agar tidur lebih rileks.

Mengelola Stres

Latih teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau journaling untuk mengurangi stres dan kecemasan yang menjadi pemicu utama sleepwalking.

Menghindari Alkohol dan Kafein

Konsumsi alkohol atau minuman berkafein bisa mengganggu siklus tidur dan memperbesar kemungkinan terjadinya episode tidur berjalan.

Konsultasi Medis

Jika sleepwalking terjadi lebih dari dua kali seminggu atau menimbulkan risiko berbahaya, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut dan terapi yang tepat.

Apakah Sleepwalking Berbahaya?

Sleepwalking pada dasarnya tidak membahayakan jika terjadi sesekali. Namun, dalam kasus tertentu, penderita bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain karena tidak sadar akan tindakannya. Misalnya, ia bisa keluar rumah, jatuh dari tangga, atau tanpa sengaja menyalakan alat berbahaya. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan tindakan pencegahan dan penanganan yang sesuai.

Kesimpulan

Sleepwalking adalah gangguan tidur yang bisa dipicu oleh banyak faktor, dari genetika hingga gaya hidup. Meskipun bukan kondisi yang mengancam jiwa, sleepwalking tetap perlu ditangani secara serius untuk mencegah risiko bahaya. Menjaga kualitas tidur, menciptakan lingkungan yang aman, serta melakukan manajemen stres yang baik dapat membantu mengurangi frekuensinya. Jika perlu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional guna mendapatkan penanganan yang optimal.

Baca Juga: Apa Itu Propylene Glycol? Fungsi, Kegunaan, dan Efek Sampingnya